Pertanyaan: Apa itu sutroh (pembatas) dalam shalat?
Jawab: Sutroh adalah pembatas antara org yang shalat dengan kiblat sehingga tidak ada sesuatu yg lewat antara orang yg shalat dengan sutroh tersebut. Sutroh (pembatas) dapat berupa tembok, tiang, punggung manusia, hewan yg menderum, tombak, atau sesuatu yang tingginya minimal setara dengan pelana unta (sekitar 25 cm) kecuali kuburan, sebab Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat (selain sholat ghoib) menghadap kuburan.
Dan hukum memakai sutroh (pembatas) adalah wajib bagi imam dan munfarid (org yg shalat sendirian baik laki2 maupun wanita), adapun bagi makmum tidak ada sutroh sebab cukup imamnya yg menghadap sutroh (pembatas).
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk shalat dalam keadaan beliau dekat dengan sutroh (pembatas). Jarak antara beliau dengan tembok adalah 3 dzira’ (hasta). (lihat HR.Bukhary dan Ahmad), sementara jarak antara tempat sujud beliau dengan tembok adalah seukuran lewatan kambing (lihat HR. Bukhary dan Muslim).
Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “janganlah engkau shalat kecuali (menghadap) sutrah (pembatas) dan jangan biarkan seorangpun lewat di hadapanmu, kalau dia enggan (untuk dicegah) maka perangi (halangi sekuat tenaga) dia karena ada setan yang menyertainya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya (1/93/1) dengan sanad yang jayyid (bagus).
Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian shalat menghadap ke sutroh maka hendaknya ia mendekati sutrohnya dan jangan sampai ada setan yang memutus shalatnya.” (HR. Abu Dawud, Al-Bazzar (hal. 54 dalam zawaid karyanya), dan Al-Hakim, beliau menshohihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahaby dan An-Nawawi.
Terkadang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memilih shalat di sisi tiang yang ada di dalam masjid beliau (dan menjadikannya sebagai sutroh).
Al-Muhaddits Syaikh Al-Albany -rahimahullaah- berkata: “sutroh (pembatas) itu wajib bagi imam dan orang yang munfarid (shalat sendirian), walaupun dalam masjid besar.”
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat di tanah yang luas, tidak ada sesuatupun yang bisa dijadikan sutroh (pembatas), (maka) beliaupun menancapkan tombak di hadapannya lalu shalat menghadap ke arahnya, sementara para sahabat bermakmum di belakang beliau (lihat HR. Bukhary-Muslim dan Ibnu Majah). Terkadang beliau menjadikan hewan tunggangannya (dari unta) dalam posisi melintang kemudian shalat menghadapnya (lihat HR. Bukhary dan Ahmad). Hal ini berbeda dengan shalat di kandang atau tempat berkumpulnya unta karena nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya (lihat HR. Bukhary dan Ahmad).
Terkadang beliau menjadikan ar-rahl (pelana hewan tunggangan) lalu meluruskannya dan shalat kearah belakangnya (kayu dibelakang pelana). (HR. Muslim, Ibnu Khuzaimah (2/92), dan Ahmad.
Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “apabila seorang diantara kalian telah meletakkan sesuatu di hadapannya seukuran kayu pada belakang pelana maka hendaknya ia shalat dan tidak mempedulikan orang yang lewat dibelakang (pelana tsb).” (HR.Muslim dan Abu Dawud)
Sesekali beliau shalallaahu ‘alaihi wa sallam shalat menghadap ke pohon (HR. An-Nasa’i dan Ahmad dengan sanad shahih) dan terkadang beliau shalat ke arah ranjang dalam keadaan Aisyah rhadhialaahu ‘anha berbaring di atasnya (di bawah selimutnya). (HR. Al-Bukhary, Muslim, dan Abu Ya’la)
Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan sesuatupun lewat di hadapan beliau (ketika shalat). Suatu ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat tiba-tiba ada seekor kambing berusaha lewat dihadapannya maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun maju mendahuluinya hingga perut beliau menempel ke dinding (sehingga kambing tersebut lewat di belakang beliau. (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shohih-nya (1/95/1), At-Thabrony (3/140/3), dan Al-Hakim, beliau menshohihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahaby). Beliau pun pernah menggenggamkan tangannya ketika shalat fardhu, maka tatkala selesai shalat para sahabat bertanya, “wahai Rasulullaah, apakah telah terjadi sesuatu didalam shalat?” beliau menjawab, “Tidak! Melainkan ada setan hendak lewat di hadapanku maka akupun mencekiknya hingga tanganku merasakan dingin lidahnya. Demi Allah! Kalau saja saudaraku, Nabi Sulaiman ‘alaihi salam, tidak mendahuluiku niscaya akan kuikat setan itu di dalah satu tiang mesjid ini hingga anak-anak penduduk Madinah mengerumuninya. Maka barangsiapa yg mampu memasang sutroh dihadapannya, maka lakukanlah.” (HR. Ahmad, Ad-Daraquthny dan At-Thabrony dengan sanad yg shohih. Hadits ini secara makna telah dikeluarkan dalam Ash-Shohihain dan selain keduanya dari sekelompok sahabat).
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian shalat menghadap sesuatu yang ia gunakan sebagai sutroh untuk menghalangi orang untuk lewat, kemudian ada sesorang hendak lewat di hadapannya, maka tahan dia pada lehernya [dan tolak ia semampunya] (dalam riwayat lain: cegahlah ia sebanyak dua kali) kalau ia bersikeras maka perangilah karena dia adalah setan.” (HR. Bukhary-Muslim. Sementara riwayat lain adalah milik Khuzamah (1/94).
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “kalau seandainya orang yg lewat di depan orang yg sedang shalat mengetahui apa yg akan menimpanya (dalam dosa), niscaya ia memilih berdiri 40 (tahun) karena hal itu lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yg shalat.” (HR. Bukhary-Muslim. Sementara riwayat lain adalah milik Khuzamah (1/94).
karena itu hukum memakai sutroh (pembatas) adalah wajib bagi imam dan munfarid (org yg shalat sendirian baik laki2 maupun wanita), wallohu ta’ala a’lam
Sebuah Aktualisasi Diri
blog ini untuk siapa saja, semoga bisa menjadi inspirasi
Rabu, 29 Juni 2011
Selasa, 18 Mei 2010
Abdurrahman Bin Auf
Abdurrahman bin Auf
Adalah sosok yang sangat bersegera dalam berinfak. Dialah Abdurrahman bin ‘auf, putih kulitnya, lebat rambutnya, banyak bulu matanya, mancung hidungnya, panjang gigi taringnya yang bagian atas, panjang rambutnya sampai menutupi kedua telinganya, panjang lehernya, serta lebar kedua bahunya.
Dilahirkan selang sepuluh tahun setelah tahun Gajah. Pada masa jahiliyah memiliki nama Abu Amru. Setelah masuk Islam, kemudian Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menggantinya dengan Abdurrahman. Lengkapnya ialah Abdurrahman bin Auf bin Abdi bin Al Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’aiy. Kuniyahnya ialah Abu Ahmad. Dia termasuk assabiqun al awwalun, dan tergolong diantara sepuluh orang yagn dijanjikan Rasulullah masuk surga.
Abdurrahmah bin Auf masuk Islam atas ajakan Abu Bakar Ash Shiddiq, yaitu sebelum Rasulullah tinggal di rumah Al Arqam. Sebagaimana kaum muslimin yang lainnya, ia juga mendapatkan tekanan-tekanan dari kaum Quraisy, yang semakin lama semakin keras. Ketika Allah mengijinkan Rasulullah untuk hijrah ke Madinah, ia termasuk orang yang turut serta dalam rombongan tersebut. Di madinah beliau dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan sahabat Sa’ad bin Rabi’ Al Anshari
Sa’ad bin Rabi’ berkata kepada saudaranya, Abdurrahman, ”Wahai saudaraku, aku memiliki dua kebun, pilihlah mana yang engkau suka, lalu ambillah.” Abdurrahman menjawab, ”Semoga Allah memberikan berkah kepada harta dan keluargamu. Akan tetapi, tunjukanlah kepadaku pasar.”
Dia adalah sahabat yang pandai berdagang dan sangat ulet. Maka mulailah ia menjual dan membeli. Selang beberapa saat ia sudah mengumpulkan keuntungan dari perdagangannya.
Disamping itu, ia juga sosok pejung yang pemberani. Ia mengikuti peperangan-peperangan bersama Rasulullah. Pada waktu perang Badr, ia berhasil membunuh salah satu dari musuh-musuh Allah, yaitu Umair bin Utsman bin Ka’ab At Taimi. Keberaniannya juga nampak tatkala perang Uhud, medan dimana banyak diantara kaum muslimin yang lari, namun ia tetap ditempatnya dan terus berperang Sehingga diriwayatkan, ia mengalami luka-luka sekitar dua puluh sekian luka. Akan tetapi perjuangannya di medan perang masih lebih ringan, jika dibanding dengan perjuangannya dalam harta yang dimilikinya.
Keuletannya berdagang serta doa dari Rasulullah, menjadikan perdagangannya semakin berhasil, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang kaya raya. Kekayaan yang dimilikinya, tidak menjadikannya lalai. Tidak menjadi penghalang untuk menjadi dermawan.
Diantara kedermawanannya, ialah tatkala Rasulullah ingin melaksanakan perang Tabuk. Yaitu sebuah peperangan yang membutuhkan banyak perbekalan. Maka datanglah Abdurrahman bin ‘Auf dengan membawa dua ratus ‘uqiyah emas dan menginfakkannya di jalan allah. Sehingga berkata Umar bin Khattab, ”Sesungguhnya aku melihat, bahwa Abdurrahman adalah orang yang berdosa karena dia tidak meninggalkan untuk keluarganya sesuatu apapun.” Maka bertanyalah Rasulullah kepadanya, ”Wahai Abdurrahman, apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Dia menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku telah meninggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik dari yang telah aku infakkan.” ”Apa itu?” tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, ”Apa yang dijanjikan oleh allah dan RasulNya berupa rizki dan kebaikan serta pahala yang banyak.”
Suatu ketika datanglah kafilah dagang Abdurrahman di kota Madinah, terdiri dari tujuh ratus onta yang membawa kebutuhan-kebutuhan. Tatkala masuk ke kota Madinah, terdengarlah suara hiruk pikuk. Maka berkata Ummul Mukminin, ”Suara apakah ini?” Maka dijawab, ”Telah datang kafilah Abdurrahman bin ‘Auf.” Ummul Mukminin berkata, ”Sungguh aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Aku melihat Abdurrahman masuk surga dengan keadaan merangkak’.” Ketika mendengarkan berita tersebut, Abdurrahman mengatakan, ”Aku ingin masuk surga dengan keadaan berdiri. Maka diinfakkanlah kafilah dagang tersebut.”
Beliau juga terkenal senang berbuat baik kepada orang lain, terutama kepada Ummahatul Mukminin. Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mneyertainya apabila mereka berhaji, yang ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Abdurrahman. Dia juga pernah memberikan kepada mereka sebuah kebun yagn nilainya sebanyak empat ratus ribu.
Puncak dari kebaikannya kepada orang lain, ialah ketika ia menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar, yang kemudian dibagikannya kepada Bani Zuhrah dan orang-orang fakir dari kalangan muhajirin dan Anshar. Ketika Aisyah mendapatkan bagiannya, ia berkata, ”Aku mendengar Rasulullah bersabda, tidak akan memperhatikan sepeninggalku, kecuali orang-orang yang bersabar. Semoga Allah memberinya air minum dari mata air Salsabila di surga.”
Diantara keistimewaan Abdurrahman bin Auf, bahwa a berfatwa tatkala Rasulullah masih hidup. Rasulullah juga pernah shalat di belakangnya pada waktu perang tabuk. Ini merupakan keutamaan yang tidak dimiliki orang lain.
Abdurrahman bin Auf, juga termasuk salah seorang sahabat yang mendapatkan perhatian khusus dari Rasulullah. Terbukti tatkala terjadi suatu masalah antara dia dan Khalid bin Walid, maka Rasulullah bersabda, ”Wahai Khalid, janganlah engkau menyakiti salah seorang dari Ahli Badr (yang mengikuti perang Badr). Seandainya engkau berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan bisa menyamai amalannya.”
Disamping memiliki sifat yang pemurah dan dermawan, ia juga sahabat yang faqih dalam masalah agama. Berkata Ibnu Abbas: Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Umar bin Khattab. Maka Umar berkata, ”apakah engkau pernah mendegnar hadits dari Rasulullah yang memerintahkan seseorang apabila lupa dalam shalatnya, dan apa yang dia perbuat?”
Aku menjawab, ”Demi Allah, tidak pernah wahai Amirul Mukminin. Apakah engkau pernah mendengarnya?” Dia menajawab, ”Tidak pernah, demi Allah.” Tatkala kami sedang demikian, datanglah Abdurrahman bin Auf dan berkata, ”Apa yang sedang kalian lakukan?” Umar menjawab, ”Aku bertanya kepada Ibnu Abbas,” kemudian ia menyebutkan pertanyaannya. Abdurrahman berkata, ”aku pernah mendengarkan tentang hal itu dari Rasulullah.” Apa yang engkau dengar wahai Abdurrahman?” Maka ia menjawab, ”Aku mendengar Rasulullah bersabda, apabila lupa salah seorang diantara kalian di dalam shalatnya, sehingga tidak tahu apakah ia menambah atau mengurangi, apabila ragu satu raka’at atau dua raka’at, maka jadikanlah satu raka’at, dan apabila ia ragu dua raka’at atau tiga raka’at, maka jadikanlah dua raka’at, dan apabila ia ragu tiga raka’at atau empat raka’at, maka jadikanlah tiga raka’at, sehingga keraguannya di dalam menambah, kemudian sujud dua kali dan dia dalam keadaan duduk sebelum salam, kemudian salam.”
Itulah beberapa keutamaan Abdurrahman bin Auf, dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang lainnya. Apabila dalam suatu majlis, kesederhanaan yang dimiliki Abdurrahman, menjadikan manusia susah untuk membedakan, mana yang miskin dan mana yang kaya. Melimpahnya harta yang dimilikinya, itu semua karena doa dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dan merupakan ujian berat dari Allah.
Beliau wafat dan meninggalkan banyak harta untuk para ahli warisnya. Terbilang meninggalkan seribu onta, seratus kuda, tiga ribu ekor kambing Juga meninggalkan emas dan perak yang semuanya dibagikan kepada ahli warisnya.
Sungguh berbahagia Abdurrahman bin Auf, orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Diantara sahabat yang ikut membawa jenazahnya ialah Sa’ad bin Abi Waqqas. Juga dishalati oleh Utsman bin Affan, serta ikut mengiringinya sahabat Ali bin Abi Thalib. Semoga allah merahmati sahabat Abdurrahman bin Auf.
Sumber pengambilan:
Abu Aminah, Abdurrahman bin Auf, Rubrik Sakhshiyah Majalah Assunnah edisi 02/Tahun VII/1424H/2003M, hal 59-60
== keterangan:
Abdurrahman bin Auf Masuk Surga dengan merangkak?
Berkata Aisyah: Aku pernah mendengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Qod roaitu abdurrahman bin Auf yad khulul jannata habwan” [Sesungguhnya aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”
Diriwayatkan oleh AHmad (6/115) dari jalan Umarah, dari Tsabit, dari Anas, dari Aisyah.
Sanad hadit tersebut dlaif, karena di sanadnya ada Umarah bin Zaadzaan Ash Shaidalaaniy Abu Salamah Al Bashri; beliau seorang rawi yang lemah hafalannya. Ibnu Hajar dalam Taqrib menyatkan bahwa beliau Shaduqun (orang yang benar), akan tetapi sering salah.
Demikian penjelasan Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam buku Hadits-hadits Dlaif dan Maudlu’ jilid 1; Darul Qolam, Cet 1. 2003 M, hal.116-117
Allahu A’lam. Semoga bermanfaat.
Adalah sosok yang sangat bersegera dalam berinfak. Dialah Abdurrahman bin ‘auf, putih kulitnya, lebat rambutnya, banyak bulu matanya, mancung hidungnya, panjang gigi taringnya yang bagian atas, panjang rambutnya sampai menutupi kedua telinganya, panjang lehernya, serta lebar kedua bahunya.
Dilahirkan selang sepuluh tahun setelah tahun Gajah. Pada masa jahiliyah memiliki nama Abu Amru. Setelah masuk Islam, kemudian Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menggantinya dengan Abdurrahman. Lengkapnya ialah Abdurrahman bin Auf bin Abdi bin Al Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’aiy. Kuniyahnya ialah Abu Ahmad. Dia termasuk assabiqun al awwalun, dan tergolong diantara sepuluh orang yagn dijanjikan Rasulullah masuk surga.
Abdurrahmah bin Auf masuk Islam atas ajakan Abu Bakar Ash Shiddiq, yaitu sebelum Rasulullah tinggal di rumah Al Arqam. Sebagaimana kaum muslimin yang lainnya, ia juga mendapatkan tekanan-tekanan dari kaum Quraisy, yang semakin lama semakin keras. Ketika Allah mengijinkan Rasulullah untuk hijrah ke Madinah, ia termasuk orang yang turut serta dalam rombongan tersebut. Di madinah beliau dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan sahabat Sa’ad bin Rabi’ Al Anshari
Sa’ad bin Rabi’ berkata kepada saudaranya, Abdurrahman, ”Wahai saudaraku, aku memiliki dua kebun, pilihlah mana yang engkau suka, lalu ambillah.” Abdurrahman menjawab, ”Semoga Allah memberikan berkah kepada harta dan keluargamu. Akan tetapi, tunjukanlah kepadaku pasar.”
Dia adalah sahabat yang pandai berdagang dan sangat ulet. Maka mulailah ia menjual dan membeli. Selang beberapa saat ia sudah mengumpulkan keuntungan dari perdagangannya.
Disamping itu, ia juga sosok pejung yang pemberani. Ia mengikuti peperangan-peperangan bersama Rasulullah. Pada waktu perang Badr, ia berhasil membunuh salah satu dari musuh-musuh Allah, yaitu Umair bin Utsman bin Ka’ab At Taimi. Keberaniannya juga nampak tatkala perang Uhud, medan dimana banyak diantara kaum muslimin yang lari, namun ia tetap ditempatnya dan terus berperang Sehingga diriwayatkan, ia mengalami luka-luka sekitar dua puluh sekian luka. Akan tetapi perjuangannya di medan perang masih lebih ringan, jika dibanding dengan perjuangannya dalam harta yang dimilikinya.
Keuletannya berdagang serta doa dari Rasulullah, menjadikan perdagangannya semakin berhasil, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang kaya raya. Kekayaan yang dimilikinya, tidak menjadikannya lalai. Tidak menjadi penghalang untuk menjadi dermawan.
Diantara kedermawanannya, ialah tatkala Rasulullah ingin melaksanakan perang Tabuk. Yaitu sebuah peperangan yang membutuhkan banyak perbekalan. Maka datanglah Abdurrahman bin ‘Auf dengan membawa dua ratus ‘uqiyah emas dan menginfakkannya di jalan allah. Sehingga berkata Umar bin Khattab, ”Sesungguhnya aku melihat, bahwa Abdurrahman adalah orang yang berdosa karena dia tidak meninggalkan untuk keluarganya sesuatu apapun.” Maka bertanyalah Rasulullah kepadanya, ”Wahai Abdurrahman, apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Dia menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku telah meninggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik dari yang telah aku infakkan.” ”Apa itu?” tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, ”Apa yang dijanjikan oleh allah dan RasulNya berupa rizki dan kebaikan serta pahala yang banyak.”
Suatu ketika datanglah kafilah dagang Abdurrahman di kota Madinah, terdiri dari tujuh ratus onta yang membawa kebutuhan-kebutuhan. Tatkala masuk ke kota Madinah, terdengarlah suara hiruk pikuk. Maka berkata Ummul Mukminin, ”Suara apakah ini?” Maka dijawab, ”Telah datang kafilah Abdurrahman bin ‘Auf.” Ummul Mukminin berkata, ”Sungguh aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Aku melihat Abdurrahman masuk surga dengan keadaan merangkak’.” Ketika mendengarkan berita tersebut, Abdurrahman mengatakan, ”Aku ingin masuk surga dengan keadaan berdiri. Maka diinfakkanlah kafilah dagang tersebut.”
Beliau juga terkenal senang berbuat baik kepada orang lain, terutama kepada Ummahatul Mukminin. Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mneyertainya apabila mereka berhaji, yang ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Abdurrahman. Dia juga pernah memberikan kepada mereka sebuah kebun yagn nilainya sebanyak empat ratus ribu.
Puncak dari kebaikannya kepada orang lain, ialah ketika ia menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar, yang kemudian dibagikannya kepada Bani Zuhrah dan orang-orang fakir dari kalangan muhajirin dan Anshar. Ketika Aisyah mendapatkan bagiannya, ia berkata, ”Aku mendengar Rasulullah bersabda, tidak akan memperhatikan sepeninggalku, kecuali orang-orang yang bersabar. Semoga Allah memberinya air minum dari mata air Salsabila di surga.”
Diantara keistimewaan Abdurrahman bin Auf, bahwa a berfatwa tatkala Rasulullah masih hidup. Rasulullah juga pernah shalat di belakangnya pada waktu perang tabuk. Ini merupakan keutamaan yang tidak dimiliki orang lain.
Abdurrahman bin Auf, juga termasuk salah seorang sahabat yang mendapatkan perhatian khusus dari Rasulullah. Terbukti tatkala terjadi suatu masalah antara dia dan Khalid bin Walid, maka Rasulullah bersabda, ”Wahai Khalid, janganlah engkau menyakiti salah seorang dari Ahli Badr (yang mengikuti perang Badr). Seandainya engkau berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan bisa menyamai amalannya.”
Disamping memiliki sifat yang pemurah dan dermawan, ia juga sahabat yang faqih dalam masalah agama. Berkata Ibnu Abbas: Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Umar bin Khattab. Maka Umar berkata, ”apakah engkau pernah mendegnar hadits dari Rasulullah yang memerintahkan seseorang apabila lupa dalam shalatnya, dan apa yang dia perbuat?”
Aku menjawab, ”Demi Allah, tidak pernah wahai Amirul Mukminin. Apakah engkau pernah mendengarnya?” Dia menajawab, ”Tidak pernah, demi Allah.” Tatkala kami sedang demikian, datanglah Abdurrahman bin Auf dan berkata, ”Apa yang sedang kalian lakukan?” Umar menjawab, ”Aku bertanya kepada Ibnu Abbas,” kemudian ia menyebutkan pertanyaannya. Abdurrahman berkata, ”aku pernah mendengarkan tentang hal itu dari Rasulullah.” Apa yang engkau dengar wahai Abdurrahman?” Maka ia menjawab, ”Aku mendengar Rasulullah bersabda, apabila lupa salah seorang diantara kalian di dalam shalatnya, sehingga tidak tahu apakah ia menambah atau mengurangi, apabila ragu satu raka’at atau dua raka’at, maka jadikanlah satu raka’at, dan apabila ia ragu dua raka’at atau tiga raka’at, maka jadikanlah dua raka’at, dan apabila ia ragu tiga raka’at atau empat raka’at, maka jadikanlah tiga raka’at, sehingga keraguannya di dalam menambah, kemudian sujud dua kali dan dia dalam keadaan duduk sebelum salam, kemudian salam.”
Itulah beberapa keutamaan Abdurrahman bin Auf, dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang lainnya. Apabila dalam suatu majlis, kesederhanaan yang dimiliki Abdurrahman, menjadikan manusia susah untuk membedakan, mana yang miskin dan mana yang kaya. Melimpahnya harta yang dimilikinya, itu semua karena doa dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dan merupakan ujian berat dari Allah.
Beliau wafat dan meninggalkan banyak harta untuk para ahli warisnya. Terbilang meninggalkan seribu onta, seratus kuda, tiga ribu ekor kambing Juga meninggalkan emas dan perak yang semuanya dibagikan kepada ahli warisnya.
Sungguh berbahagia Abdurrahman bin Auf, orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Diantara sahabat yang ikut membawa jenazahnya ialah Sa’ad bin Abi Waqqas. Juga dishalati oleh Utsman bin Affan, serta ikut mengiringinya sahabat Ali bin Abi Thalib. Semoga allah merahmati sahabat Abdurrahman bin Auf.
Sumber pengambilan:
Abu Aminah, Abdurrahman bin Auf, Rubrik Sakhshiyah Majalah Assunnah edisi 02/Tahun VII/1424H/2003M, hal 59-60
== keterangan:
Abdurrahman bin Auf Masuk Surga dengan merangkak?
Berkata Aisyah: Aku pernah mendengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Qod roaitu abdurrahman bin Auf yad khulul jannata habwan” [Sesungguhnya aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”
Diriwayatkan oleh AHmad (6/115) dari jalan Umarah, dari Tsabit, dari Anas, dari Aisyah.
Sanad hadit tersebut dlaif, karena di sanadnya ada Umarah bin Zaadzaan Ash Shaidalaaniy Abu Salamah Al Bashri; beliau seorang rawi yang lemah hafalannya. Ibnu Hajar dalam Taqrib menyatkan bahwa beliau Shaduqun (orang yang benar), akan tetapi sering salah.
Demikian penjelasan Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam buku Hadits-hadits Dlaif dan Maudlu’ jilid 1; Darul Qolam, Cet 1. 2003 M, hal.116-117
Allahu A’lam. Semoga bermanfaat.
Fisika
fisika sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup saya, sejak diriku menginjakkan kaki pertama di kampus orange.....
Langganan:
Komentar (Atom)
